Laman

open

Senin, 23 Mei 2016

YOU CAN NOW READ INDONESIAN WEBTOON IN ENGLISH!








Dear readers, it is now possible to read your favourite Indonesian webtoons in English. We've been working hard to adapt the comics for the international audiences so we can all share the same joy in reading this comic worldwide. Our translation has also become a source to be translated into another language such as Portuguese, French and Spanish. We can only do this much, but we also hope that Indonesian comic can go international and reach more audiences. This is possible with the help from international translators who translate it into their respective languages. If you want to see their works, you can open your app, choose the Fans Translation menu and it will be all there for you to read.

If you are translator and interested to translate these titles into your own language, feel free to use our translation as your source without our permission. We do wish you cite our team name as your source, but this is voluntary. The only languages that may NOT use our translation as source is English and Indonesian. Please do not use our translation to create, edit or improve any other English or Indonesian version without our permission.

The English adaptation under our team name (Pujangga Webtoon) is possible thanks to the help from Brazil (Golden Knight Team). Special shout out to Silvana, the team leader who has experiences in English and willing to give us a hand to carefully check the translation quality. Muito obrigado!! Visit their blog now to read webtoons in Portuguese and see how large their contributions are. They are the best team in Line Webtoon Translate.

The list for the English translated webtoon are currently on the same page with the original Indonesian. We will soon create a dedicated page for them.




Titles currently available under Pujangga Team:

EGGNOID
by Archie The Redcat


My Prewedding
by Annisa Nisfihani


Flawless
by Shinshinhye








PLEASE ENJOY!








Minggu, 22 Mei 2016

DISQUS AND FB COMMENTS ARE UNDER MAINTENANCE.



UPDATED: FB COMMENTS ARE BACK PER 28th MAY 2016


DUE TO SECURITY ERROR REPORTS, OUR WEBSITE IS NOW UNDER HEAVY MAINTENANCE. COMMENTS WITH DISQUS AND FACEBOOK ARE UNAVAILABLE AT THE MOMENT.


KARENA ADANYA BLOKIRAN SECURITY ERROR, KAMI MEMUTUSKAN UNTUK MENJADIKAN STATUS WEB KAMI MENJADI UNDER MAINTENANCE. UNTUK SEMENTARA FITUR KOMENTAR DENGAN DISQUS DAN FACEBOOK TERPAKSA DIMATIKAN.

PERUBAHAN YANG HARUS DILAKUKAN UNTUK MENGATASI HAL INI SANGAT BESAR SEKALI SEHINGGA AKAN MEMERLUKAN BEBERAPA WAKTU. SILAKAN GUNAKAN CARA DI BAWAH INI SEBAGAI ALTERNATIF UNTUK SEMENTARA.


CARA MENGATASI BLOKIRAN DI CHROME
HOW TO BYPASS SECURITY ERROR ON CHROME



TAMBAHAN:
CARA YANG PALING SEDERHANA UNTUK SAAT INI ADALAH MEMAKAI INTERNET EXPLORER BAWAAN WINDOWS. KAMI MEMAKAI WINDOWS 8.1 DAN LANCAR-LANCAR SAJA MEMBUKA WEB INI.




Jumat, 20 Mei 2016

Sneak Preview unTouchable Episode 96 Bahasa Indonesia















Untuk melihat gambar-gambarnya, kamu bisa buka langsung Episode 96 dari Naver Webtoon Korea di sini.

Belum baca teks terjemahan episode sebelumnya? Cek di sini.

Gambar tidak disertakan karena dibatasi kontrak dengan pengarang.

BACA JUGA UNTOUCHABLE BAHASA INDONESIA (VERSI SUDAH BERGAMBAR)
YANG TERSEDIA DI SINI

JANGAN MENERUSKAN JIKA TIDAK INGIN SPOILER.


Kode warna:
Sia = Hitam Tebal
Jiho = Oranye
Baryu = Kuning
Sihwan = Abu-Abu
Mr. Choi = Merah
Moran = Ungu
Figuran lain = Hijau, dll.
Italic/Miring = tidak diucapkan

Narasi:
italics, hitam biasa



----- START ----














Episode diawali dengan flashback percakapan Baryu dan Moran beberapa episode lalu

"mengenai Sia... biar aku saja yang mengurusnya... kamu fokus sama dirimu sendiri saja dulu" kata Moran

 "Kak Moran, apa rencana kakak...?" tanya Baryu

"Yang pasti aku tidak bisa diam melihat-lihat saja..."


"Yang namanya manusia... tetap tidak kuijinkan"







Kembali ke masa kini, rupanya tadi Baryu lah yang sedang mengingat-ingat percakapan itu. Dia sedang berada di studio rekamannya.

tiba-tiba seorang temannya memanggil dia:

"Baryu! Maaf nih, bisa minta ulang rekaman lagunya satu kali lagi nggak?"

"Ah... oke"

"Lagu yang mana?"

"Yang bonus track"

"Hm? Bukannya yang tadi hasilnya sudah lumayan ya?"


Sihwan yang ada di ruangan itu, diam saja memperhatikan Baryu yang pergi keluar ke ruang rekaman.


























unTouchable Episode 96
Jangan-Jangan?















"? Please don't leave me ?"

"
? Stand by my side ?"

"
? Please don't leave me ?"

"
? Just stay in my eyes ?"


begitulah bunyi bait yang dinyanyikan Baryu


"Bagus. Makasih ya!"

"Sepertinya kamu lagi good mood nih! Kondisi badanmu sudah enakan, nggak?

Jadi idol itu berat, kan?"

"Haha, nggak apa-apa kok. Itu bukan masalah yang harus diseret panjang-panjang"

"Lirik Bonus Track-nya juga bagus lho. Nggak kusangka ternyata kamu juga sangat berbakat menulis lirik"

"Hehe- makasih"

"Bagianku sudah selesai kan? Aku kembali istirahat dulu ya."


"Ya. Kamu istirahat dulu saja"




BLAM! Baryu kembali ke ruangan tadi lalu menutup pintunya. Sewaktu masih berada di balik pintu itu dengan tatapan suram, Sihwan memanggilnya:

"...Baryu"

"Kita bicara sebentar"









Mereka sekarang berada di atap studio itu dilatari dengan cahaya matahari senja nan kuning. Lalu Baryu menanyainya duluan:

"...mau bicara apa?"

"Kamu... apa kamu baik-baik saja?"



"Soal apa?"

"Kamu kira aku ini tidak sadar? Akhir-akhir ini kamu sangat aneh!"


"Kamu mulai aneh sejak saat itu..."

"Apaan sih, aku kira kamu mengajakku naik ke sini mau bicara sesuatu."

"Memangnya apa yang aneh dariku?"

"Aku juga baik-baik saja menyanyi lagunya, aku juga lagi bersiap-siap untuk konser kembalinya kita ke panggung."

"Aku juga tersenyum seperti biasanya kan?"

Kata Baryu sambil tersenyum (?) pada Sihwan. Ada yang tidak wajar dari senyuman itu. Seakan-akan dipaksakan dan berusaha menghindari pertanyaan Sihwan.

"Memang aku harus bagaimana lagi baru bisa dibilang baik-baik saja?"

"...Baryu... kamu"


"Sudahlah, Yoon Si-Hwan."

"Lain kali, tidak usah terlalu memikirkan aku lagi."

kata Baryu meyakinkan Sihwan

"Cukup lakukan saja apa yang terbaik buat kamu."

"Aku pergi dulu. Kalau ada waktu, sebaiknya banyak-banyak latihan saja. Sampai konser nanti, waktunya sudah nggak banyak, ya kan? Ketua grup?"

Baryu berjalan meninggalkan Sihwan



"Tunggu dulu... kamu...!!"


Sihwan menggenggam tangan Baryu dan berusaha mencegahnya pergi



tapi PLAK!!


Baryu melepaskan tangan Sihwan darinya



"Jangan sok bicara seakan-akan kamu tahu semuanya"

kata Baryu memperingatkan temannya




"Dasar manusia!"




















Cerita berpindah ke Jiho, yang masih dengan ceria dan bergembira membersihkan rumahnya sampai benar-benar bersih!



"Beresss~~!"

"Sudah lama nggak bersih-bersih, rasanya senang sekali."


"Rasanya diri ini juga jadi segar...!"


"Tinggal menunggu besok..."


"A...Aku harus mempersiapkan segalanya untuk besok... "


Debumm debumm, Jiho terbata-terbata karena berdebar-debar membayangkan akan bertemu kekasihnya besok


"Tinggal menunggu satu hari lagi, aku bisa bertemu dengannya lagi"



TRRRR TRRRR, HP Jiho bergetar, Moran lah yang menghubunginya.


"Eh? ... Moran...?"






















Cerita berpindah ke sebuah cafe bernama STARCOFFEE,

"Silakan!" sambut pegawai di situ

Rupanya Jiho lah yang datang ke tempat itu, dia menoleh ke kanan kiri mencari seseorang.

"Jiho, di sini"

Rupanya Moran mengajaknya bertemu di tempat itu

"Ah, dokter, lama tidak bertemu. Sepertinya ini baru pertama kalinya kita bertemu di luar"

"Maaf memanggilmu malam-malam begini..."

"Makasih kamu sudah menyempatkan waktu untuk datang"

"Ah nggak apa-apa kok, tadi aku juga cuma lagi bersih-bersih saja..."

"Ah! Aku benar-benar baru saja bersih-bersih kok, bukan menyemprotkan disinfektan."

"Sekarang OCD-ku sudah jauh baikan kok!"

Jiho buru-buru menjelaskan tentang kondisi penyakitnya pada Moran


"Tidak perlu gugup begitu."

"Sebenarnya aku ke sini hari ini, bukan karena urusan kesehatanmu"

"Aku datang ke sini sebagai kakaknya Sia."

"Eh? Kenapa tiba-tiba..."

"Apa terjadi sesuatu pada Sia?"


"... Sebenarnya, seharusnya aku bilang begini padamu lebih awal"

"Cuma aku tidak tahu saja harus mulai bicara dari mana"

"Meskipun agak terlambat, aku merasa kamu tetap harus tahu."

"Jiho, apa kamu tahu... alasan kenapa Sia bersamamu?"

"Apa ada alasan yang lainnya? Itu karena kami saling menyukai, kan?"


"........................." Moran diam sejenak




"Apa kamu tidak pernah berpikir...."




"Kalau ada alasan yang lainnya?"































----- TO BE CONTINUED ----






SUMBER TEKS BERASAL DARI UNTOUCHABLE LINE WEBTOON BAHASA MANDARIN DAN KOREA. NARASI KAMI TAMBAHKAN SENDIRI UNTUK MEMPERMUDAH MEMBAYANGKAN TANPA MELIHAT GAMBARNYA. HASIL AKHIR PADA KOMIK BISA JADI ADA PERBEDAAN KARENA AKAN MENGALAMI PENYESUAIAN BEGITU VERSI INGGRISNYA KELUAR.




Jumat, 13 Mei 2016

Sneak Preview unTouchable Episode 95 Bahasa Indonesia


Untuk melihat gambar-gambarnya, kamu bisa buka langsung Episode 95 dari Naver Webtoon Korea di sini.

Belum baca teks terjemahan episode sebelumnya? Cek di sini.

Gambar tidak disertakan karena dibatasi kontrak dengan pengarang.

BACA JUGA UNTOUCHABLE BAHASA INDONESIA (VERSI SUDAH BERGAMBAR)
YANG TERSEDIA DI SINI

JANGAN MENERUSKAN JIKA TIDAK INGIN SPOILER.


Kode warna:
Sia = Hitam Tebal
Jiho = Oranye
Baryu = Kuning
Sihwan = Abu-Abu
Mr. Choi = Merah
Moran = Ungu
Figuran lain = Hijau, dll.
Italic/Miring = tidak diucapkan

Narasi:
italics, hitam biasa

----- START ----














Hari telah berganti. Di ruang tamu, ayah Sia sedang merapikan dasinya.

"Di mana Sia? Kenapa dia belum keluar?",  tanya sang ayah pada istrinya.

"Dia selalu berada di kamar terus sejak kemarin.jawab istrinya.

"Dasar, padahal baru dinasehati satu dua kali saja sudah jadi begini. Mana bisa dewasa?",  gerutu sang ayah

"Inilah sebabnya aku tidak bisa membiarkan dia sendirian..."

"Ragi, kemarin kamu bilang sesuatu yang aneh sama kakakmu ya?", tanya ayah pada sang adik yang hendak berangkat kuliah. Sang adik langsung terkejut seketika.

"Ng, nggak kok! Memangnya aku bisa ngomong apa sih.... haha...." Jawab Ragi dengan gugup.

"Sebelum Sia pulang ke apartemen, hati-hatilah bicara dengannya, jangan bicara yang tidak diperlukan" 

BRAK! Suara pintu ditutup, dan sang ayah hanya terdiam melihat anak laki-lakinya.



























unTouchable Episode 95
Ini di mana?














Sia memulai dengan menarasikan masa kecilnya.

"Sejak kecil, yang bisa kulakukan tidaklah banyak"



"Sia! Siapa anak perempuan itu? Anak perempuan yang kamu gandeng tangannya itu!",  bentak sang ayah pada Sia kecil.


"Dia cuma teman sekelasku..."

"Bisa-bisanya kamu berteman sama manusia! Manusia itu cuma mangsa...!!",  bentak sang ayah lagi.

"Kamu itu vampir! Kamu harus tahu itu!!"

"Tidak boleh punya hubungan dekat sama manusia! Mengerti?!"



"Aku tidak tahu kenapa ayah selalu berkata padaku seperti itu"

"Aku tidak suka cara ayah yang seperti ini"

"Awalnya kukira Ragi dan kak Moran juga diperlakukan seperti itu."

"Jadi aku tidak pernah menanyakannya pada mereka."

"Tapi, ternyata perlakuannya berbeda..."

"Ini nggak adil!! Ini diskriminasi!!"

"Kenapa cuma aku yang diperlakukan begini...!!"

kata Sia penuh kesal dalam hatinya





"Tok-Tok--- Putriku, apa kamu masih hidup?" sang ibu mendatangi Sia yang diam saja terbaring di kasurnya

"Besok kamu sudah mau kembali ke apartemen lagi kan? Ibu mau lihat wajah cantikmu dulu." sang ibu duduk di kasur sambil membelai-belai dengan hangat rambut Sia.

"Masih marah sama ayahmu ya?"

"Berilah ayahmu pengertian, dia itu tidak pintar bicara."



"................." 
Sia terdiam sejenak




"...Ibu, aku ini anak pungut ya?"

Tanya Sia, disambut agak terkejutnya sang ibu.



"Hahaha-- kamu itu bicara apa sih. Kan jelas-jelas kamu tumbuh secantik ibu."

"Tapi...!!! Kalau aku bukan anak pungut, lalu kenapa ayah begini terhadapku!!" 
Tanya Sia dengan nada agak tinggi

"Kenapa ayah cuma begini terhadapku, sementara Ragi sama kak Moran tidak diapa-apakan?!"

"Sebenarnya... ibu bisa mengerti kenapa ayahmu berbuat begini"

"Soalnya sejak kecil kamu itu suka bikin masalah."

"Dulu kamu suka merusak barang, suka nggak bikin PR, suka dipaksa ke sekolah."

Jawab sang ibu disambut dengan suramnya ekspresi wajah Sia.


"Tapi sebenarnya semua itu karena kamu terlalu jujur dan aktif"

"................." Sia terdiam sejenak


"....masa sih, dulu aku seperti itu? Aku nggak begitu ingat"

"Sia, dulu kamu suka membawa siapa pun main-main ke mana saja."

"Dulu kamu sangat periang, sangat berperasaan..."

"Tetapi inilah yang sangat dicemaskan sama ayahmu..."

"Karena kamu sangat mudah bergaul dengan manusia, jadi kalau kamu tidak dijaga, bisa-bisa kamu menghisap energi di mana-mana."

"Memang sih, sekarang kamu sudah besar. Tapi ayah masih melihat kamu seperti anak-anak."

"Itulah sebabnya ayah ketat sekali kalau sama kamu. Bukan karena dia nggak suka sama kamu."


"Biarpun begitu, ayah cukup bicara baik-baik saja sama aku, kan? Nggak perlu mengawasiku sampai seperti ini...!!"


"Duh nak-- kalau kamu itu bisa mendengarkan kata-kata ayahmu, dia pasti mau bicara baik-baik sama kamu. Masalahnya kamu suka berbuat apa pun yang kamu suka. Ingin makan langsung makan. Maunya mencari makanan yang enak-enak saja."

GLEK! Wajah Sia suram.


"Sebelum kamu kembali ke apartemen nanti, baik-baiklah dulu sama ayahmu. Bisa kan?"


"Iya, aku mengerti..."


"Ah, ibu lupa kalau masih mencuci baju! Ibu pergi lihat bajunya dulu ya"

Sang ibu pun bergegas pergi dari kamar Sia, lalu sembari sendirian di atas ranjang, Sia berbicara sendiri:


"Apakah semua ini karena aku saja yang terlalu sensitif...?"

"Ya sudahlah. Dari dulu ayah itu memang seperti ini. Lagian besok juga sudah hari yang terakhir, setelah itu kami bakalan lama nggak ketemu."


"Aku mau beres-beres barangku dulu."




















Sementara itu di ruang kerjanya, Moran menelpon ayahnya.

"Halo? Ayah ya?"

"Ini aku, Moran"

"Besok aku mau pulang ke rumah sebentar, sekalian melihat-lihat keadaan Sia."

"Bagaimana keadaan Sia...?"



"Sebenarnya beberapa hari lalu semuanya berjalan lancar, ...tetapi hasilnya masih sama saja" jawab ayahnya

"Tapi... apa kamu sudah benar-benar yakin?"

"Kalau Sia punya hubungan yang sangat dekat... dengan manusia?"

"...aku rasa iya"

"Tapi ayah tidak perlu cemas, ini bisa kuatur"

"Tidak perlu terlalu menekan dia, ayah biasa-biasa saja terhadapnya."

"Kalau tidak hati-hati... bisa-bisa kita mengingatkannya pada 'kejadian waktu itu' "

"Pokoknya... jangan sampai Sia mengetahuinya."

Sepertinya ada masa lalu tersembunyi dari Sia.











Cerita beralih lagi ke Sia, yang masih berada di kamarnya dan bersiap memakai baju hendak keluar. Sewaktu bagian lengannya ditarik, tiba-tiba kancingnya copot dan menggelinding ke bawah ranjangnya.


"Duh! Kancingnya...!"

"Dia jatuh ke mana sih? Duh, cuma kancing saja bikin masalah."

Gerutu Sia sambil merogoh-rogoh bawah kolong ranjangnya.


"Ah, ketemu! Ketemu!"

"Hampir saja nggak ketemu gara-gara jatuhnya di bawah ranjang."

DEG! Sia terkejut sewaktu mengambil kancingnya, ada benda lain yang ikut terambil olehnya, yaitu selembar foto.


"...Hm? Apa ini?"


Foto itu bergambar Sia sewaktu kecil, berdiri tersenyum di depan gerbang sebuah sekolahan.



"Eh, ini fotoku. Kapan dicepretnya ya?"

"Hm...?"

Sia memperhatikan sesuatu di foto itu.

"SD.... Cheongsol?"

"Apa ini... aku kan nggak pernah sekolah di SD ini..."





"Lalu... kenapa aku bisa berada di tempat ini?"








Dan episode ini diakhiri dengan sebuah misteri baru.






















----- TO BE CONTINUED ----






SUMBER TEKS BERASAL DARI UNTOUCHABLE LINE WEBTOON BAHASA MANDARIN DAN KOREA. NARASI KAMI TAMBAHKAN SENDIRI UNTUK MEMPERMUDAH MEMBAYANGKAN TANPA MELIHAT GAMBARNYA. HASIL AKHIR PADA KOMIK BISA JADI ADA PERBEDAAN KARENA AKAN MENGALAMI PENYESUAIAN BEGITU VERSI INGGRISNYA KELUAR.

Advertising